Hariangaruda.com I Agam – BPBD Kabupaten Agam mencatat jumlah korban meninggal akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah tersebut mencapai 86 orang. Sementara, 88 lainnya masih dinyatakan hilang.
“Ini merupakan pembaruan data per pukul 19.30 WIB,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, di Lubukbasung, Sabtu (29/11/25) petang.
Ia merinci, 86 korban meninggal itu tersebar di lima kecamatan.
Di Kecamatan Malalak, banjir bandang yang menerjang Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, menewaskan 10 warga, yakni Azmal, Kasmawati, Herman, Yusmaniar, Azir, Marnis, Gina, Dina, Aldo, dan Ernawati.
Di Kecamatan Tanjung Raya, dua warga Ariki, Nagari Dalko, yaitu Safarudin dan Emninar, meninggal akibat tanah longsor.
Sementara di Kecamatan Matur, satu korban atas nama Rajibah ditemukan meninggal di Kuok Tigo Koto, Nagari Matua Mudiak.
Kecamatan Palembayan menjadi wilayah dengan korban terbanyak, yakni 74 orang, yang tersebar di sejumlah jorong:
Jorong Koto Alam: 21 orang
Jorong Sumbarang: 16 orang
Kampuang Tangah: 7 orang
Jorong Kampung Tangah Timur: 9 orang
(seluruh nama korban sesuai data yang disampaikan BPBD)
“Seluruh jenazah telah dimakamkan di pemakaman keluarga,” ujar Rahmat.
88 Korban Hilang
Rahmat menjelaskan, hingga kini masih terdapat 88 korban yang belum ditemukan, meliputi:
7 orang di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur
1 orang warga Sikabu, Nagari Kampung Tangah, Kecamatan Lubuk Basung, yang terseret arus Sungai Batang Antokan
2 orang tertimbun longsor di Ariki, Nagari Dalko, Kecamatan Tanjung Raya
78 orang di Salareh Aia, Kecamatan Palembayan
“Masih banyak korban yang belum ditemukan, dan kami berharap seluruhnya dapat segera ditemukan,” katanya.
Pencarian Dilanjutkan
Operasi pencarian kembali dilanjutkan pada Sabtu (29/11) pagi, melibatkan BPBD Agam, Basarnas Padang, TNI, Lantamal II Padang, Polri, Damkar Agam, Satpol PP Agam, Dinas Sosial, PMI, Kelompok Siaga Bencana (KSB), serta pemerintah kecamatan dan nagari.
Tim gabungan juga mengevakuasi warga yang terisolasi akibat akses jalan terputus ke lokasi pengungsian yang telah disiapkan.
Kesaksian Warga
Seorang warga Salareh Aia, Eki, menceritakan banjir bandang datang pada Kamis (27/11) sekitar pukul 17.00 WIB, diawali suara gemuruh keras.
“Saya dan keluarga langsung keluar rumah. Warga juga berlarian, lalu tiba-tiba banjir bandang datang menghancurkan rumah-rumah,” ujarnya.
Ia mengaku selamat setelah mencari tempat yang aman dan kemudian membantu warga lain yang menjadi korban, dikutip dari Antara.
