Home Dumai Riau Nasional Politik Gosip Kriminal Musik Teknologi Edukasi Kesehatan Olahraga Kuliner Wisata Iklan
pekanbaru

Pembacokan Mahasiswi UIN di Bulan Ramadhan: Teguran Keras untuk Dunia Pendidikan

pukul


 


Hariangaruda.com I Pekanbaru – Anggota DPRD Provinsi Riau, Abdullah, M.Pd., menanggapi insiden pembacokan yang menimpa seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau di lingkungan kampus pada Kamis pagi, 26 Februari 2026. Peristiwa yang mengguncang civitas akademika tersebut terjadi sekitar pukul 07.30 WIB dan langsung mendapat perhatian dari pihak kepolisian serta masyarakat luas.


Dalam pernyataannya, Abdullah menasehati seluruh mahasiswa dan insan pendidikan untuk senantiasa menahan diri terutama selama bulan suci Ramadan. Ia menekankan pentingnya menjauhi segala bentuk perbuatan keji dan munkar yang dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga orang lain di sekitar mereka.


“Bulan Ramadan harus menjadi momentum refleksi dan pengendalian diri. Saya mengimbau kepada seluruh mahasiswa dan komunitas pendidikan agar mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan serta menghindari tindakan yang dapat mencederai diri sendiri maupun lingkungan,” ujar Abdullah dengan nada penuh harap.


Mengenai kasus pembacokan tersebut, Kanit Reskrim Polsek Binawidya, Iptu Santo Morlando, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan insiden sekitar pukul 08.00 WIB dan segera melakukan olah tempat kejadian perkara. Pelaku diduga seorang pria bernama Reyhan Mufazar, 22 tahun, yang diduga memiliki hubungan pribadi dengan korban. Korban sendiri adalah mahasiswi Jurusan Ilmu Hukum UIN Suska yang sedang menunggu seminar proposal di ruang sidang munaqasah saat kejadian berlangsung.


Polisi masih menyelidiki motif sebenarnya di balik kekerasan tersebut dan mengumpulkan keterangan saksi-saksi guna memperjelas kronologi. Kondisi korban hingga saat ini belum dirilis secara mendetail oleh aparat kepolisian.


Abdullah mengajak seluruh elemen masyarakat agar tetap waspada dan bersama-sama menciptakan suasana kampus yang kondusif serta aman bagi proses belajar mengajar. “Kita perlu menjaga harmonisasi dan membangun solidaritas agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tutup Abdullah.